Friday, May 15, 2009

CAWAPRES PILIHAN SBY...


Aku bukanlah orang yang paham dan "suka" politik. Dahulu ketika di bangku perkuliahan, walaupun aku aktif di himpunan mahasiswa, BEM Fakultas, BEM Institut, tetapi sedapat mungkin aku pilih departemen yang ga berkaitan langsung dengan politik(HubLu atau KesMa). Karena pada awal aku ikut BEM, aku telah melihat bahwa dalam politik (walo masih taraf mahasiswa) segala sesuatu mungkin terjadi, yang kelihatan sebagai korban ternyata adalah pelaku, yang kelihatannya teman tenyata saling tusuk dari belakang, dsb..So I'm enough with it...

Tapi pagi ini aku tergelitik untuk menulis tentang langkah yang diambil SBY karena membaca posting di wall FB sobat Firdaus Putra.

"Ngapain sih SBY milih Boediono?"

Ketika ada indikasi kuat SBY akan memilih Boediono, aku sempat diskusi dengan suamiku tersayang (hehehe...)
Kami berdua melihatnya dari 2 sudut pandang yang berbeda (yach, dari dulu jaman kuliah juga seringnya aku dan suami berada pada tempat yang bersebrangan, dengan pola pikir yang berbeda...aku di BEM, dia jadi Senat yang ngontrol...aku Kepala Departemen di HMJ, dia sesepuh Warga Jurusan..jadi inget masa lalu :p)

Anyway...
Kalo menurut Mas Ayok, pilihan SBY ini dikarenakan SBY sudah jenuh dengan "lamaran" dari banyak partai koalisi Demokrat. Kalo pilih si A, partai X marah. Kalo pilih si B, partai Y marah. Jadi SBY pilih pilihan netral...Somebody that is Nobody... Maksudnya sapa sih kenal Boediono di kancah perpolitikan (walo dia orang BI..) Mungkin dengan harapan koalisi Demokrat dengan partai manapun tidak akan pecah. Jadi SBY pilih jalan tengah

Kalo menurutku (walo aku juga manggut-manggut sepakat dengan pendapat mas ayok, setelah kupikir-pikir :p) SBY memilih Boediono karena dia punya plan 5 tahun ke depan. Sudah jadi rahasia umum, bahwa Indonesia adalah salah satu dari sedikit negara yang "lolos" dari efek domino efek global, walaupun di beberapa bidang masih ada yang terimbas (seperti kondisi keluargaku ang pernah kutulis disini..)
Dengan memilih seorang ekonom, bukannya kiai, tentara atau politisi...maka SBY punya kans lebih untuk membenahi perekonomian Indonesia. Agar Indonesia bisa survive (at least 5 tahun kedepan..)

Ketika tadi baca wall-nya Firdaus, banyak yang tidak setuju dengan Boediono karena di-cap sebagai neolib (Aku sampai tanya mbah gugel, apa arti neolib :p dan ini hasilnya ""Neo-liberalism" is a set of economic policies that have become widespread during the last 25 years or so. Although the word is rarely heard in the United States, you can clearly see the effects of neo-liberalism here as the rich grow richer and the poor grow poorer. ")

Well, Aku sendiri merasa jangan terlalu cepat judgement orang...kita belum tahu, right?
Kalo ada rekan-rekan yang ga setuju terus mutung jadi golput..Personally speaking : aku merasa itu tindakan kekanak-kanakan...Pasti ada pilihan yang agak lebih baik dari semua option yang jelek... :p
Jadi pilihlah yang menurut anda keburukannya lebih sedikit, dan berdoalah agar pilihan tersebut tidak salah...

Mungkin anda akan mengecap aku pemimpi..tapi aku pribadi sangat ingin, dan aku berdoa serta berusaha agar Indonesia bisa jadi negara yang BESAR, dalam artian sesungguhnya...bukan hanya besar penduduknya dan besar hutangnya doang :p
Aku ingin orang di seluruh dunia tahu tentang Indonesia. Aku punya beberapa teman di luar Indonesia, dan ketika mereka pertama denger Indonesia reaksinya "Ooo..negara di deketnya Bali ya...(doeng..) ato itu kota di Bali ya (Doeng..doeng..:p)" kalaupun ada yang tahu Indonesia, biasanya identik dengan negara yang banyak bencana, teroris dan kemiskinan...(Bahkan kakak angkatku yang di Norway aja takut datang lagi ke Indonesia karena banyaknya bencana dan keamanan yang tidak terjamin..padahal dia sempat tinggal di Indonesia gitu loh...)

YACH..untuk menutup postingan politik campur aduk ini...aku hanya bisa mengajak...kalo anda orang Indonesia..Ayo bangun negara ini bareng..Jangan gothok-gothok-an terus...Lakukan yang terbaik di bidang yang anda sudah pilih.... Entah itu karyawan, guru, bisnisman/woman, ibu rumah tangga, mahasiswa, pelajar, dsb...
PS : Foto diambil dari http://pemilu.detiknews.com

22 comments:

Hangga Nuarta said...

Sip... Setuju Mbak...

Tugas saya membangun bangsa ini dengan belajar dengan sebaik-baiknya... :D

Karila Wisudayanti said...

Iya Ngga...Itu tugasmu sekarang...Karena 10 tahun dari sekarang, kamu yang akan ambil alih estafet negara dari orang-orang yang seumuranku...
Jadi..tetep semangat belajar( dan ngeblog :p) ya....

zener said...

wahhhh udah ikutan politik.

sebetulnya aku setuju dengan pemilihan boediono. yang gue nda suka saling sindirnya itu.

btw walau bukan ahli ekonom. aku mau tanya neo-libersm pernah nda sih diajarin di dalam pelajaran ekonomi? atau hanya aru dibuat itu bahasa?

btw setuju janagn gonthok2xan tapi seru juga tuh kaya perdebatan di amrik ketahuan sisi baik dan buruknya :) yang pasti perang terbuka lah :p

Fanda said...

Setuju ama Boediono, krn menurutku beliau sosok yg low profile tp pny visi. Bukan yg sok teriak2 tp ga ada apa2nya. Moga2 ga salah deh pilihan SBY!

el-ferda said...

mbak saya kutipkan diskusi di milist Lafadl - Jogja.

Jalan Neoliberal Pak Bud
Oleh: Revrisond Baswir, Kepala Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM, Yogyakarta
Tanggal : 28 Feb 2007,

Sumber : Media Indonesia

PIDATO pengukuhan DR Boediono sebagai guru besar ekonomi di
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, menarik untuk dicermati.
Peristiwa itu tidak hanya penting karena berkaitan dengan puncak
karier seseorang sebagai staf pengajar perguruan tinggi.

Pada saat yang sama, sebagai seseorang yang sedang menjabat sebagai
Menteri Koordinator Perekonomi, peristiwa itu juga penting karena
mengungkapkan garis pemikiran Boediono dalam melaksanakan tugas
pemerintahannya.

Pertanyaan besar yang dicoba dijawab Boediono dalam pidato
pengukuhannya itu secara singkat berbunyi sebagai berikut, apakah kita
sudah berada di jalan yang benar? Walaupun Boediono memiliki latar
belakang sebagai ekonom, pertanyaan besar itu tidak ia ajukan hanya
untuk menilai perjalanan perekonomian Indonesia.

Melainkan juga untuk menilai perjalanan perpolitikan Indonesia.
Artinya, secara keseluruhan, pertanyaan besar yang dicoba dijawab
Boediono ialah, apakah secara ekonomi dan politik Indonesia sudah
berada di jalan yang benar?

Dalam menjawab pertanyaan besar itu, Boediono membagi isi pidatonya
dengan mengupas tiga pokok bahasan. Pertama, mengenai sejarah
perekonomian Indonesia. Kedua, mengenai hubungan antara tingkat
pendapatan per kapita dengan demokrasi.

Dan ketiga, mengenai kebijakan ekonomi yang perlu menjadi prioritas
Indonesia dalam beberapa tahun ke depan. Halaman yang dihabiskan
Boediono untuk membahas ketiga pokok bahasan itu meliputi 28 halaman.
Sedangkan referensi yang diacunya berjumlah 24 buah.

Semula saya agak terkesima dengan kepedulian Boediono terhadap sejarah
perekonomian Indonesia. Lebih-lebih, dalam membahas sejarah
perekonomian Indonesia, Boediono tidak hanya menelusurinya sejak akhir
atau awal era pemerintahan Soeharto.

Ia menelusurinya jauh hingga ke era pemerintahan Soekarno. Walaupun
demikian, setelah mengikuti ulasannya, saya merasa ada sesuatu yang
hilang. Bagi Boediono, sejarah ternyata tidak lebih dari rangkaian
peristiwa. Artinya, selain cenderung mengabaikan dinamika
internasional ekonomi-politik Indonesia, Boediono juga cenderung
mengabaikan aspek struktural yang melatarbelakangi dinamika sejarah.

Dengan kecenderungan seperti itu, mudah dimengerti bila Boediono
cenderung sangat mudah melupakan era kolonial sebagai bagian integral
dari sejarah perekonomian negeri ini.

Padahal, era kolonial ialah bagian teramat penting dari sejarah
perekonomian Indonesia. Ia tidak hanya penting karena berlangsung
dalam kurun waktu yang sangat lama. Ia juga penting sebab aspek
ekonomi adalah aspek utama dari kolonialisme.

Sebab itu, era pemerintahan Soekarno, selain masih terus dirongrong
kekuatan kolonial, harus dipahami sebagai periode saat berbagai upaya
sistematis dengan sadar dilakukan untuk mengoreksi warisan struktural
yang ditinggalkan kolonialisme.

Tetapi justru pada titik itulah kekuatan kolonial, di tengah-tengah
situasi perang dingin yang menyelimuti dunia ketika itu, berusaha
keras menelikung Soekarno.

Artinya, berakhirnya era Soekarno tidak dapat dilihat semata-mata
karena krisis ekonomi. Keterlibatan Amerika Serikat (AS), Dana Moneter
Internasional (IMF), dan Bank Dunia dalam memicu krisis ekonomi
Indonesia layak untuk dikaji secara seksama.

***

Logika serupa dapat pula diterapkan untuk memahami kejatuhan Soeharto.
Sebagai antitesis dari pemerintahan Soekarno, pemerintahan Soeharto
adalah pemerintahan kesayangan kolonial. Lebih-lebih selama era
pemerintahan ini, para ekonom sahabat Amerika terus-menerus dipercaya
untuk menakhodai penyelenggaraan perekonomian Indonesia.

Namun setelah 32 tahun, di tengah-tengah ketidakpuasan internal yang
cenderung meluas, serta tuntutan liberalisasi perdagangan yang
dilancarkan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), memelihara
pemerintahan Soeharto mungkin terasa sudah terlalu mahal ongkosnya.

Dengan latar belakang seperti itu, melihat perkembangan demokrasi
semata-mata dari sudut tingkat pendapatan per kapita jelas sangat
menyederhanakan masalah.

Lebih dari itu, demokrasi dalam pengertian apakah yang dimaksud
Boediono? Boediono memang berkali-kali menekankan demokrasi yang
dikembangkan di Indonesia hendaknya tidak hanya demokrasi prosedural.
Secara substansial ia harus didukung dengan mengembangkan kelas
menengah yang mampu mempertahankan kelanggengan demokrasi.

Walaupun demikian, dari uraian panjang Boediono, sama sekali tidak
jelas demokrasi jenis apa yang sedang dibahasnya. Ini penting saya
tegaskan, sebab dalam pengertian para bapak pendiri bangsa, demokrasi
yang hendak dikembangkan di negeri ini bukanlah demokrasi liberal.

Demokrasi yang hendak dikembangkan di sini, meminjam ungkapan Bung
karno, ialah sosio-demokrasi, yaitu suatu bentuk demokrasi yang
terdiri dari demokrasi politik dan demokrasi ekonomi sekaligus. Sebab
itu, dalam ungkapan Bung Hatta, 'Jika di sebelah demokrasi politik
tidak terdapat demokrasi ekonomi, rakyat belum merdeka.'

Boediono tampaknya sengaja mengabaikan amanat yang antara lain
tercantum dalam Pasal Undang-Undang Dasar 1945 itu. Konsekuensinya,
bagi saya, yang perlu dicari korelasinya bukanlah antara tingkat
pendapatan per kapita dan demokrasi, melainkan antara demokrasi
ekonomi dan demokrasi politik.

Berbagai studi yang diacu Boediono mengenai hubungan antara tingkat
pendapatan per kapita dan demokrasi, saya kira lebih tepat dipahami
sebagai preskripsi, yaitu untuk memuja pertumbuhan ekonomi dan
melancarkan pelaksanaan agenda-agenda ekonomi neoliberal di
negara-negara dunia ketiga.

Dari sudut pandang yang lain, sesungguhnya bukan krisis ekonomi yang
menjadi batu sandungan demokrasi, melainkan tingkat demokratisasi
ekonomi. Krisis ekonomi, selain bisa direkayasa kekuatan kolonial,
hanya akan menjadi batu sandung demokrasi pada tingkat elite.

Pada tingkat rakyat banyak, justru demokrasi tanpa demokrasi
ekonomilah yang menjadi sumber malapetaka. Mengapa? Sebagaimana
dialami Indonesia saat ini, demokrasi tanpa demokrasi ekonomi ternyata
tidak hanya melahirkan petualang-petualang politik. Ia menjadi dasar
legitimasi bagi pelembagaan sistem ekonomi pasar neoliberal di negeri
ini.

Sebab itu, jika dikaitkan dengan pertanyaan besar yang diajukan
dijawab Boediono, mudah dimengerti bila ia dengan tegas menjawabnya
dengan kata-kata, 'ya'. Saya, sesuai dengan perspektif yang saya
gunakan di sini, tentu akan dengan tegas pula menjawabnya dengan
kata-kata, 'tidak'.

Dengan mengemukakan hal itu sama sekali bukan maksud saya untuk
menganjurkan agar Indonesia kembali mengisolasi diri, atau agar negeri
ini kembali ke era pemerintahan otoriter. Yang ingin saya tegaskan
ialah prioritas agenda perekonomian Indonesia ke depan bukanlah
pertumbuhan ekonomi dengan embel-embel yang tersebar sekali pun.
Melainkan, sesuai dengan cita-cita proklamasi dan amanat konstitusi,
melakukan segala upaya untuk mewujudkan demokrasi ekonomi secepatnya.

Jika dilihat dari sudut pertumbuhan, terus terang saya lebih
menekankan kualitas pertumbuhan daripada tinggi atau rendahnya angka
pertumbuhan. Artinya, embel-embel yang tersebar saja jauh dari cukup
untuk memahami kualitas pertumbuhan.

Pertumbuhan yang berkualitas harus dilihat baik pada segi proses,
keberlanjutan, maupun implikasinya terhadap kemandirian ekonomi
nasional. Pertumbuhan ekonomi yang tersebar, tidak akan bermanfaat
jika bersifat teknokratis dan memperdalam cengkeraman neokolonialisme.

Sebagai penutup, ada baiknya saya kemukakan, walaupun saya dan Pak Bud
(demikian saya biasanya menyapa beliau), sama-sama berasal dari
Fakultas Ekonomi UGM, sudut pandang kami dalam melihat perekonomian
Indonesia bertolak belakang 180 derajat.

Khusus mengenai substansi pidato yang disampaikannya, saya merasa agak
kesulitan menemukan pribadi Boediono yang pada awal 1980-an pernah
menjadi sahabat dekat Prof Mubyarto. Yang terasa menonjol dalam pidato
tersebut ialah pribadi Boediono sebagai sahabat dekat William Liddle,
yang menurut informasi yang saya peroleh, memang turut terlibat
sebagai pembahas penulisan isi pidato itu. Akhirul kalam, saya ucapkan
selamat kepada Pak Bud. Semoga perbedaan sudut pandang ini tidak
mengganggu kehangatan persahabatan kita.***

URL blogku: firdausputra.co.cc atau mengintip-dunia.blogspot.com

el-ferda said...

terus soal status FB saya, seperti kaprahnya kita ketahui KAMMI mempunyai garis ideologi yang sama dengan PKS. meski demikian tak ada garis struktural antara KAMMI dengan PKS. bisa kita sebut underbow, seperti halnya PMII underbow PKB, IMM underbow PAN, dst.

nah persoalannya KAMMI merupakan organisasi mahasiswa yang semestinya menjaga jarak dengan kekuasaan, bukan justru hanyut. penolakan KAMMI terhadap budiono saya rasa sangat terkait dengan manuver politik PKS.

di sinilah KAMMI mengalami blunder, tak hanya itu, ia rela menggadaikan kediriannya sebagai ormas mahasiswa yang semestinya lebih bersifat umum tak hanya sektarian atau golongan/ kelompok tertentu saja (parpol).

jadi setelah PKS menerima penjelasan SBY, KAMMI mau ngapain? tetap nolak atau mendukung. keduanya dilematis. mendukung artinya menjilat. menolak artinya tak taat sama "bapak". begitulah.

el-ferda said...

silahkan lihat juga http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=64616&Itemid=82
terkait fakta Mafia Berkeley di Indonesia dengan segenap sepak terjangnya, dulu ada bukunya. saya lupa judulnya. coba sampeyan googling saja "Mafia Berkely".

ferdi fauzan said...

ada aneh dikit pas pendeklarasian mlm itu, masa pak SBY pake bju batik merah? biru donk....

IjoPunkJUtee said...

Klo menurutku, mengapa SBY memilih Boediono...??? Karena untuk mengimbangi pasangan lain, Miiter-Sipil berduet....,juga untuk mengisi dunia politik dengan orang2 baru....rakyat udah bosen kayaknya dengan orang2 lama yang tak jelas juntrungannya.....

Karila Wisudayanti said...

@ Zener : iya..aku juga ga suka saling sindirnya itu :(

@ Fanda : Amien..whatever yang terbaik lah...

@ El-frda : wah..mantapppp bro..salut aku ama kamu...sosokmu bener2 dinutuhin negara buat selalu mengkritisi apapun..Semoga idealisme nya tidak hilang seiring waktu...Link blog akan kupasang bentar lagi ya...Persahabatan jalan terus kok :)

@ Ferdi : hahaha...ga ada yang beliin kali bro :p

@IjoPunkJutee : kamu satu pemikiran ama suamiku nih.. :)

sibaho way said...

jangan selalu melihat apa yang sudah dilakukan, lihat juga apa yang akan dilakukan. kalo selalu melihat ke belakang, kapan maju ke depan?
disadari atau tidak, kita terlalu banyak berwacana.
silahkan dilanjutkan :D

J O N K said...

wah bener mba, semuanya pada ngomong mau membangun negeri, tapi saling jelek2kan huhuh, capek dueh

mmm, kalau menurut saya Budiono bagus juga lho, SBY keamanan, Budiono membangun ekonomi, sayang aja dia gak terlalu terkenal ... lah kita lihat nanti aja deh :D

Siapapun yang terpilih, mudah2han bisa membangun negeri ini.

Karila Wisudayanti said...

@Sibaho : hehehe..iya juga bang.. :)

@Jonk : Okay deh...Amien..Semoga mereka yang terpilih bisa membangun negri ini...

anazkia said...

Semoga ini menjadi langkah awal, untuk Indonesia menjadi lebih baik lagi, Insya Allah, Wallahu'alam.

kopi said...

SBY + BOEDIONO didukung negara2 besar asean lainnya (yg sedang diobok2 untuk kemudian di'setir')= masih ingat wacana negara2 asean bersatu seperti euro ? siapa ya yg paling untung ??? hehehehehhhh

attayaya said...

siapapun presiden dan wapresnya, minumnya teh anget (kek iklan aja)

ya semoga semua pilihan itu baik.
dan yang menang bisa membuat bangsa Indonesia lebih baik lagi.

Gratiss said...

langsung to the point aja yah
ini ada ebook
3 rahasia super dalam mempengaruhi siapa saja.
yg akan anda dapatkan :

-bagaimana para orang super mempengaruhi orang2 lewat seminar, media masa dll

pernahkah anda melihat para trainer mempengaruhi audiens menjadi lebih semangat ??

pernahkah anda melihat tung desem mempengaruhi para pembaca dan pendengar lewat media buku dan audionya ??

padahal isi dan tips mereka biasa saja, tapi mengapa mereka terpengaruh dan percaya??

anda sering melihat para pemimpin berpidato dan mampu mempengaruhi para pendengarnya..
tahukah anda apa yang sebenarnya mereka gunakan untuk mempengaruhi orang lain termasuk anda??

baca buku 3 rahasia super pengaruh karangan farhan f
the owner of uangsuper.com

IjoPunkJUtee said...

Datang lagi mbak...!!! Salam tuk semua pasangan CAPRES-CAWAPRES, silakan anda berebut simpati rakyat dengan janji2 yang akan kalian tepati....Semoga semua siap menang siap kalah, tak sewenang2 karena menang tetep lapang menerima sang pecundang, bagi yang kalah terima dengan pasrah,kesmpatan berbakti pada pertiwi masih banyak lagi melalui jalur lain....

Karila Wisudayanti said...

@ Anazkia @ Attayaya : Amien..Amien..

@ Kopi : sapa ya bro..?? :)

@ IjoPunkJutte : Wah bener banget, Prof..Yang kalah kudu berbesar hati menerima kekalahannya..Itu yang jarang terjadi di Indonesia... :p

Gudang Hikmah said...

iya ni,saya juga heran knapa ndak milih saya ya he...he....

Fahmi Rizwansyah said...

Pak Boediono adalah salah satu putra terbaik bangsa ini. Silahkan memilihnya jika anda semua suka.
Lha wong tinggal memilih aja kok bingung, hehehe.
Thanks for sharing sobat.

Cheers,
frizzy

anam78 said...

ya setuju dengan Budiono